http://belajarmenulis.wordpress.com/

May 23rd, 2007 by zamzambz

http://belajarmenulis.wordpress.com/

http://belajarmenulis.wordpress.com/

http://belajarmenulis.wordpress.com/

http://belajarmenulis.wordpress.com/

http://belajarmenulis.wordpress.com/

 

 

 

ameng atuh..?!

Buku, Pesta dan Cinta

December 2nd, 2006 by zamzambz

Pemuda ’80-an, apalagi yang beruntung mengecap status pelajar atau
mahasiswa (mari untuk selanjutnya kita hanya memakai istilah yang
‘mahasiswa’ saja), mungkin akan sangat akrab sekali dengan istilah yang
saya jadikan penggalan judul di atas. Dengan gaya santai,
individu-individu intelektual ini menginternalisasikan gaya hidup di
atas ke dalam aktivitas keseharian.

Tak heran sebetulnya, kita
tahu akhir dasawarsa ’70-an terjadi perubahan radikal aturan main
pendidikan, khususnya yang berhubungan dengan pendidikan tinggi. Dipicu
oleh aksi berani DEMA-ITB tahun ’78, pemerintah kemudian secara
sistematis men-depolitisasi kampus melalui Undang-undang NKK/BKK-nya.
Dampaknya sangat besar bagi kultur hidup mahasiswa. Pendidikan kemudian
pada akhirnya terbatas hanya pada ruang-ruang kuliah saja, full
kognitif dengan sangat sedikit sekali—kalau tidak bisa dibilang tak
ada—sentuhan afektif. Pemuda mahasiswa hanya diberikan pilihan untuk
berprestasi secara akademik an sich, berpolitik dilarang keras, tak
boleh mendirikan organisasi yang bersifat massal. Haram. Efeknya? ->
buku, pesta dan cinta (ho ho ho). Mahasiswa tidak memiliki wadah
beraktivitas, sudah untung sebagian (kecil) bisa lari ke
kelompok-kelompok diskusi. Sisanya? Enjoy aja (maaf beribu maaf bukan
iklan rokok).

Kita tutup dulu bab ‘mahasiswa yang berafiliasi di
kelompok-kelompok diskusi’, kita fokus ke calon-calon insan cendikia
yang lebih realistis memandang hidup saat itu (?).

Oke, Buku,
Pesta dan Cinta. Buku artinya belajar, benar-benar teoritis, cenderung
mekanistik. Mungkin sesuai dengan yang disyairkan Rendra:
          Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,
          dan bukan ilmu latihan menguraikan.
Jadinya
tak ada karya sosial yang bisa dibanggakan pada kala itu. Karena aspek
riil (uraian) yang menyentuh ke masyarakat hampir dengan sukses
tersunat oleh sistem pendidikan yang berbasis individualisme.

Karena
minim sekali pembelajaran sosial, para calon cendikiawan tersebut pun
akhirnya mencari pelarian pada kesenangan individu: Pesta dan Cinta.

(berhubung sedang sedikit kecapean tulisan ini akan dilanjutkan nanti saja)

kontemplasi

November 8th, 2006 by zamzambz

Seperti kata Gie.. "Aku tak tahu mengapa, aku merasa agak melankolik malam ini.." (1969)

Aku sedang tidak mau berpikir saat ini, aku hanya mau merasa, membelai..
Jutaan kata yang dulu berontak kini hanyut saja terangkul sayap-sayap kepasrahan
Tak ada lagi dialektika—semenarik apapun itu—yang kubutuhkan saat ini
Yang ada hanyalah, aku ingin kembali menemukan makna, rasa bahagia dan ketulusan dari hati yang sedikit demi sedikit mulai berkarat

Di hadapan, terhampar berbagai fenomena yang mencari-cari penuntasan..
..ku
Tapi kenapa terasa kosong saja?
Titik jenuh telah mencapai batas kepala?

Bosan dengan realita yang akhirnya kusadari tak sedikitpun aku mengerti ujung pangkalnya
Serasa berputar-putar aku dalam labirin ini
Bekerja, berkeringat, berkoar, tanpa secara kasat mata bisa aku saksikan hasilnya
Tak bisa dibeli dengan kata-kata penghiburan, kerjaku ada dalam wilayah yang imajiner
Manusiawi rasanya jika aku menginginkan ’penampakan’ jerih payahku
Aku berasa,
di luar mungkin lebih banyak dan lebih nyata bisa aku memberikan sesuatu

……………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………….
……………………………………………………………………………………….

Che bilang..
"Kalau aku boleh memilih untuk berjuang, mungkin saat ini aku ingin tinggal bersama kalian.
Melewati jalanan yang padat lalu lintas, dengan iring-iringan spanduk yang panjang, kalian ketuk nurani para penguasa.
Kaum yang berbaju megah, berkendaraan bagus dan punya mobil mengkilap.
Kalian pertaruhkan segalanya, kesempatan untuk hidup senang, kemapanan pekerjaan, dan sekolah yang kini kian mahal.
Buang segala teori sosial yang ternyata tak bisa membaca kenyataan.
Keluar kalian dari training-training yang pada akhirnya tidak membuat kita paham dan mau membela orang miskin.
Kupilih tinggal serta berjuang di hutan karena di sana aku kembali mendengar  rintih dan suara orang yang hidupnya menderita."

Dan aku bilang..
"Aku memilih untuk berjuang".

Cahaya remang-remang lampu iringi pengasinganku
Aku butuh kembali menjenguk relung-relung hati ini…

Memberikan rasa cinta pada semesta
Priangan, 9 November 2006
04:03 am